
Kesempatan mengunjungi Pulau Halmahera seakan-akan seperti mimpi yang jadi kenyataan bagi saya. Saat masih
belajar di Sekolah Dasar, saya mengetahui nama Pulau Halmahera dari buku
sejarah punya bapak saya, mengenai sejarah Portugis dan Spanyol yang
ingin menguasai jalur perdagangan rempah-rempah di Ternate dan Tidore. Dilanjutkan dengan pelajaran Geografi di SLTP, untuk
memudahkan mengingat Pulau Halmahera, cukup mengingat huruf K, karena
bentuk Pulau Halmahera memang menyerupai huruf K, hampir sama seperti
Pulau Sulawesi.
Kunjungan pertama saya ke Pulau Halmahera pada pertengahan tahun 2010
untuk melakukan penyelaman, pengambilan foto bawah air dan juga mendata
potensi situs-situs penyelaman yang ada didaerah tersebut. Penyelaman
dimulai di Pulau Tidore Kabupaten Tidore Kepulauan, dilanjutkan ke Pulau
Guraici Kabupaten Halmahera Selatan, lanjut ke Teluk Jailolo Kabupaten
Halmahera Barat kemudian ke Halmahera Timur. Dari Buli, kami naik speed boat ke Gotowasi. Kemudian menyelam di Pulau Mia, Karang Sapaji, Karang Oniplu dan Atol Woi.
Baca Juga
Globe untuk melihat posisi Indonesia di Bumi


Kunjungan pertama tersebut ternyata
berlanjut lagi pada akhir tahun 2010, saat itu saya bekerja freelance
untuk perusahaan tambang di Kabupaten Halmahera
Timur, Provinsi Maluku Utara, untuk membantu kegiatan Eksplorasi, Survey
Pelabuhan, Jalur Pelayaran dan Perencanaan Pengelolaan Lingkungan
Hidup. Setelah tambang beroperasi, saya mendapatkan kesempatan untuk
menjadi Kepala Divisi HSE dan Kepala Divisi Shipping pada perusahaan
tersebut. Dengan demikian semakin banyak kesempatan saya untuk
mengeksplorasi daerah tersebut.
Pada
saat survey rencana lokasi pelabuhan, saya memperhatikan bahwa ada
kecenderungan masih terjadi kenaikan daratan di pulau-pulau sekitar
Kabupaten Halmahera Timur. Hal tersebut terlihat dari karang-karang yang
seharusnya berada di laut, ternyata sudah berada di daratan. Kondisi
ini menunjukkan bahwa proses geologis masih aktif terjadi di kawasan
ini.



Salah satu fenomena yang menarik yaitu batuan yang berada di Tanjung Boay, Desa Wailukum. Di tanjung ini terdapat bukit setinggi 60-an meter. Dan kebetulan, Tanjung Boay ini merupakan tempat yang akan disurvey untuk rencana lokasi pelabuhan. Sehingga saya banyak menghabiskan waktu di sekitar tanjung ini, mulai dari pengamatan pasang-surut untuk menentukan kisaran ketinggian pasang dan surut serta penentuan patokan 0 meter garis pantai, pengukuran kecepatan arus dan pengamatan arah arus, pengamatan tinggi gelombang dan profil gelombang laut, pengeboran untuk mengetahui profil sedimen, penyelaman untuk mendapatkan data biologi laut serta survey batimetri untuk mendapatkan sebaran kedalaman di sekitar Tanjung Boay. Kemudian memetakan dan membuat peta lokasi serta peta kedalaman perairan laut sekitar Tanjung Boay.
Baca juga
Kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke

Di pantai berpasir, terlihat alur-alur yang dibentuk oleh gelombang pasang yang naik kemudian surut dan meninggalkan pola-pola yang cantik di pantai. Pada saat surut, kita bisa dengan mudah menjelajah pantai Tanjung Boay, tetapi pada saat pasang, air laut naik dan menutupi pantai, sehingga untuk pulang ke desa, harus menunggu air laut surut atau berjalan melalui air laut yang sedang pasang tersebut. Untuk mengatasi kondisi tersebut, kadang diperlukan perahu atau boat untuk mencapai lokasi yang sedang disurvei.



Batuan
di Tanjung Boay ini terlihat unik karena memiliki bentuk dan pola
tersendiri. Mineral-mineral yang terkandung dalam batu memberi corak dan
warna yang beragam. Warna-warna batuan yang beragam tersebut berada
dalam satu lokasi yang sama yaitu Tanjung Boay, tetapi terdapat beragam
bentuk dan warna batu yang terhampar di lokasi ini. Pemandangan batuan
yang beragam tersebut seakan-akan menunjukkan ukiran-ukiran bumi yang
dibentuk dan diukir sendiri oleh bumi melalu proses-proses alami yang
terjadi di bumi. Kawasan Tanjung Boay ini menjadi salah satu bukti
hasil karya proses kekuatan alam yang terus aktif mengukir dan membentuk
permukaan bumi. Hasil karya alami ukiran bumi seperti ini banyak
tersebar, memberi warna dan corak permukaan bumi di berbagai belahan
bumi.